Minggu, 05 November 2017

CURHAT ASN PENGELOLA PENGADAAN BARANG/JASA

 CURHAT ASN PENGELOLA PENGADAAN BARANG/JASA
Oleh: Jokopitono dkk
Tepat jam [16:59, 5/11/2017] saya terima curahan hati salah satu teman pengelola pengadaan barang/jasa, Sakitnya setiap ada sanggah terhadap hasil pemilihan penyedia. Selalu kata-kata “Pokja menyalahgunakan wewenang”, “sakitnya tuh disini” katanya cita-citata. Pokja dianggap  main mata dengan penyedia, mematikan persaingan. 

Bagaimana jika pokja sudah sesuai aturan dan prosedur pemilihan penyedia? Bagaimana bila pokja berniat mengambil langkah hukum tentang pencemaran nama baik dan fitnah? Sementara atasan pokja melarang menempuh cara itu?. Sedih rasanya, katanya. Pokja benar susah, apalagi pokja salah.
Mungkinkah ada aturan yang memberi rasa keadilan terhadap pokja pemilihan? Khususnya hak yang sama untuk bisa mengadukan penyedia atau pihak lain yang mencemarkan nama baik pokja. Pun juga bisa mengadukan balik pihak-pihak yang tidak mampu membuktikan kesalahan pokja?. Pokja pemilihan  selalu dituntut untuk bisa mengklarifikasi kepada APH terkait surat kaleng pengaduan. Dimana keadilan sebagai sesama pemilik hak asasi?

Keadaan menyedihkan yang diderita pokja pemilihan masih ditambah oleh realita banyak  dijumpai ketidakjelasan tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak-pihak terkait pengadaan barang/jasa. Misalnya,  saat terjadi keterlambatan pekerjaan yang dilakukan oleh penyedia, dimana ini kan seharusnya tanggung jawab PPK sebagai pengendali kontrak pengadaan barang/jasa, tetapi  justru menyalahkan pokja pemilihan. Katanya tidak profesional, tidak teliti dalam memilih penyedia.

Pokja dituntut mampu menjelaskan hasil pemilihan secara lugas dan jelas, sementara masalah penyedia adalah tentang keinginan merekamendapatkan kue PBJ dengan cara apapun. Pokja benar-benar harus menjawab sanggah memakai dasar hukum. Perlunya pokja mendapatkan pendampingan hukum, sejak persiapan pengadaan hingga selesainya kontrak pengadaan barang/jasa. Jaminan rasa aman untuk pokja harusnya dipikirkan sejak awal. Tentunya tidak lupa pula organisasi pengadaan harus sama-sama memahami dan menjalankan fungsinya masing-masing, agar pokja tidak maju kena mundur kena. Didepan berhadapan dengan penyedia, dibelakang disalahkan oleh KPA/PPK.

Memahami titik kritis manajemen pengadaan barang/jasa sebagai upaya mencegah terjadinya penyimpangan pengadaan barang/jasa menjadi perhatian serius. Jadwal pelaksanaan pengadaan yang disusun lebih realistis; mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan barang/jasa pada awal pelaksanaan anggaran; menunjuk PPK, PP/ULP, panitia pengadaan yang kompeten; tidak membocorkan nilai kontrak pengadaan kepada pihak ketiga/rekanan untuk kepentingan pribadi.

Titik kritis itu mulai dipecahkan tentunya dengan komunikasi “Ngopi” ngobrol sambil minum kopi mungkin lebih efektif,  mencari solusinya bersama-sama untuk masing masing titik kritis, biar bisa jadi acuan penyelesaiannya. Risiko penyimpangan oleh PA KPA tantangan dan peluang solusinya.

KPA/PPK/PPHP belum paham regulasi pengadaan dan sangat pintar bersandiwara, katanya modernisasi tapi justru yangg menerapkan PBJ sesuai aturan justru tidak diberdayakan. Banyak yang menginginkan hasil pengadaan yang kredibel tetapi tidak mau ikut prosesnya. Inilah ladang amal perjuangan sebagai ASN, kita terus berharap dan berikhtiar agar profesi pengadaan yang kita geluti dapat diberi penghargaan yang setimpal sesuai dengan risiko. Satu hal yang membuat kita semua bisa bertahan ketika hasil-hasil pengadaan yang kita proses bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Kita mulai berangkat dari pemaknaan dasar TYME dengan meletakkan masing-masing kita di titik kita saat ini sebagai ASN yang berfungsi sebagai pengelola Pengadaan barang/jasa. Tentu maju, mundur, diam adalah pilihan kita masing-masing. Dari setiap masalah, tantangan dan tekanan ada peluang yang terbuka. Diantaranya peluang itu:
1. kekurangan paket pengadaan ditempat lain kelebihan paket ditempat lain, maka konsep agen pengadaan bisa jadi peluang untuk didiskusikan;
2. terkait risiko hukum, sudah saatnya membuat kajian langkah-langkah solutif apa yang dapat diajukan, output kajian selain menjadi peluang angka kredit juga menjadi manfaat bagi sesama jabfung.

Masalah fungsional yang menyedihkan hati perlu mulai kita obati, setiap personil mulai menyiapkan obatnya agar tidak sampai benar-benar terlukai hatinya. Obat herbal penyembuh hati adalah huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang diramu menjadi sebuah paragrap penampung rasa sedih, penawar rasa sakit.  Tidak percaya? Coba saja. Menuangkan keluhan-keluhan dalam tulisan itu akan mampu membersihkan mencerahkan, menjernihkan.

Cukup banyak testimoni di buku yang ditulis para pendahulu bahwa setiap insan untuk bernyali membela kebenaran dan pantang mundur menghadapi kendala memberikan pelajaran untuk mengantarkan dirinya menjadi pribadi.

Beberapa tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, Natsir, Hamka, Umar Khalid, Ahmad Yasin, Gandhi, Che Guevara, Roosevelt, Soe Hok Gie dan sederet pribadi yang membangun skenario kepemimpinan di Indonesia dan dunia. Ternyata memimpin adalah mengambil resiko hidup yang tak nyaman. Termasuk memimpin diri sendiri sebagai ASN Pengelola Pengadaan Barang/Jasa.

Setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Suka tidak suka setiap orang yang hidup  sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak setiap orang dituntut untuk memimpin dirinya  sendiri agar survive.

Lebih jauh dikatakan bahwa semua berawal dari mental. Semakin berat ujian kehidupan maka akan semakin kuat mental seseorang dalam menjalani hidup. Semakin kuat jiwanya maka semakin kuat pula energi kepemimpinannya.

Karena itu, manusia besar menyadari bahwa tugas kepemimpinan yang pertama adalah mengelola jiwa mereka sendiri. Sebelum mengubah orang lain maka terlebih dahulu kita harus mampu memimpin diri sendiri. (Pemerhati Curahan Hati ASN Fungsional Pengelola PBJ.)
Jember, 06 Nopember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REFLEKSI IFPI DI HARI JADI KE-2 (Fokus Pada Langkah Maju) TAHUN 2018

Pada usia IFPI yang ke-2 (dua tahun), telah melewati banyak hal, tentunya dengan langkah maju. Maju dan terus maju walau banyak kelemahan ...